NILAI DAN SIMBOL ISLAM DALAM MANUSKRIP PRIMBON KOLEKSI PUSAT KAJIAN KHAZANAH DAN NASKAH ISLAM NUSANTARA

GUSMIAN, ISLAH (2016) NILAI DAN SIMBOL ISLAM DALAM MANUSKRIP PRIMBON KOLEKSI PUSAT KAJIAN KHAZANAH DAN NASKAH ISLAM NUSANTARA. IAIN SURAKARTA.

[img]
Preview
Text
Penelitian_Mutamakkin_2012.pdf

Download (790kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang simbol dan nilai dalam manuskrip primbon koleksi Pusat Kajian Khazanah dan Naskah Islam Nusantara. Kerangka teori yang digunakan untuk menganalis masalah penelitian ini adalah teori simbol. Seorang ahli filsafat, Ernst Cassirer, mendefinisikan manusia sebagai animal symbolicum. Manusia memiliki kemampuan menggunakan simbol untuk melakukan komunikasi atau untuk menyampaikan pesan-pesan. Simbol di sini didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dimaknai, karena makna sebuah simbol tidaklah menempel, melekat atau ada pada simbol itu sendiri. Sebagai makhluk, manusia bisa memberi makna pada sesuatu, yang semula bukan apa-apa. Dengan pemberian makna inilah maka apa yang semula bukan apa-apa lantas menjadi suatu simbol, suatu lambang. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan, pertama naskah Kitab Primbon dan Doa ini memuat 11 topik utama. Topik-topik di dalamnya terjadi adopsi dan adaptasi atas simbol-simbol dan nilai-nilai Islam. Kedua, parktik adopsi dan adaptasi tersebut terjadi dalam hal pemberian nama anak, nama-nama para Nabi, keluarganya dan para sahabatnya digunakan. Dalam hal doa dan obat-obatan, selain dituturkan obat herbal khas Nusantara juga dikaitkan dengan tradisi Islam, yaitu dengan memakai ayat Al-Qur’an baik dalam bentuk doa maupun rajah. Selanjutnya, setiap peristiwa yang terjadi diberi makna dan dikaitkan dengan kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu, pada setiap momen peristiwa disarankan untuk berdoa kepada Allah meminta perlindungan dan keselamatan dan bersedekah. Sebagai masyarakat yang dekat dengan alam, orang Jawa begitu detail dalam memahami pola-pola yang terjadi dalam sistem kehidupan alam semesta. Pemahaman dan kesadaran semacam ini menjadikan mereka mudah dekat dengan Sang Pencipta alam dan kehidupan. Di situlah kemudian orang Jawa memberikan makna pada setiap yang hidup dan yang mati dengan mengaitkannya pada Sang Pemilik kehidupan. Simbol dan makna tersebut diciptakan dalam upacara sedekah dan selamatan adalah sebagai kesadaran bahwa dalam rutinitas sehari-hari semua kehendak, semua tindakan, semua yang ada haruslah diarahkan dan diabdikan pada Sang Maha Wujud, yaitu Allah. Simbol-simbol dalam berbagai ritual di atas, merupakan salah satu ekspresi dan pengejewantahan dari penghayatan dan pemahaman orang Jawa tentang realitas yang tak terjangkau oleh akal pikiran. Dengan cara itulah, Zat yang tak terjangkaukan oleh akal pikiran tersebut menjadi yang sangat dekat, dan hakikatnya memang sungguh dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia. Melalui simbol-simbol ritual tersebut, tercipta rasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlibat serta menyatu dalam setiap gerak hidup dan napas dirinya.

Item Type: Article
Subjects: 2x Islam > 2x7 Filsafat dan Perkembangannya > 2x7.1 Ushuludin dan Pemikiran Islam
Divisions: Karya Dosen
Depositing User: Maha siswa
Date Deposited: 06 Feb 2019 03:05
Last Modified: 06 Feb 2019 03:05
URI: http://eprints.iain-surakarta.ac.id/id/eprint/2961

Actions (login required)

View Item View Item