TAFSIR AL-QUR’AN SEBAGAI PRAKTIK KRITIK SOSIAL Kontribusi Syu’bah Asa dalam Penafsiran Al-Qur’an di Indonesia

Hj., Ari Hikmawati, S.Ag., M.Pd. and Dr., Islah Gusmian, M.Ag and Hj., Elvi Na’imah, Lc., M.Ag (2019) TAFSIR AL-QUR’AN SEBAGAI PRAKTIK KRITIK SOSIAL Kontribusi Syu’bah Asa dalam Penafsiran Al-Qur’an di Indonesia. IAIN Surakarta.

[img]
Preview
Text
tafsir Al-Quran Syubah Asa.pdf

Download (713kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang praktik kritik sosial politik dalam tafsir Al-Qur’an di Indonesia. Tafsir Dalam Cahaya Al-Qur’an, Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik karya Syu’bah Asa—seorang wartawan dan budayawan—yang terbit di penghujung kekuasaan rezim Orde Baru, menjadi objek kajian dalam penelitian ini. Topik ini dipilih, karena secara umum kajian tafsir Al-Qur’an sejauh ini berkutat pada aspek isi dan metode penafsiran, yang nota bene tidak mempertautkannya dengan konteks- konteks ruang dan problem sosia politik yang terjadi pada saat tafsir ditulis. Topik-topik sosial politik yang dibahas, strategi komunikasi serta dialektika antara penafsiran teks Al-Qur’an dengan problem sosial politik yang dipraktikkan Syu’bah Asa di dalam karya tafsirnya menjadi fokus analisis dalam kajian ini. Untuk mengerangkainya penelitian ini menggunakan konsep readng into dan reading out dalam hermeneutika Farid Esack dan tafsir spesifik, historis, dan kontekstual dalam hermeneutika Hassan Hanafi, dan pendekatan critical linguistics sebagaimana yang dipakai dalam studi teks media massa. Model analisis wacana Theo Van Leeuwen: proses pengeluaran (exclusion) dan proses pemasukan (inclusion) subjek dalam suatu wacana dan Teun A. Van Dijk, yaitu teks, dalam hal ini karya tafsir ditempatkan sebagai representasi kognisi sosial maupun individual tertentu dan khas dimanfaatkan untuk menemukan strategi komunikasi dan wacana yang dibangun. Dari keseluruhan kajian yang dilakukan memberikan informasi penting. Pertama, masalah-masalah yang terjadi di era rezim Orde Baru dibicarakan. Masalah tersebut terkait dengan penegakan keadilan: kasus pembunuhan Udin, wartawan Bernas, pembantaian aktivis PKI, petrus, dibicarakan ketika Syu’abh menafsirkan QS. Al-Nahl [16]: 90. Pelanggaran HAM, seperti kasus DOM Aceh, Tanjuk Priok, Papua dibicarakan Syu’bah ketika menjelaskan kandungan QS. Al-An’am [6]: 65. Kasus korupsi di tubuh birokrasi, dibicarakan ketika ia menguraikan QS. Al-Nisa’ [4]: 135 dan QS. Al-Baqarah [2]: 183. Lemahnya suara moral agamawan: Islam sekadar lipstik politik, dibicarakan ketika menjelaskan QS. Al-Anfal [8]: 25. Kedua, stretagi komunikasi yang digunakan Syu’bah adalah objektivasi, yakni menjelaskan subjek dan objek dalam suatu peristiwa dengan jelas, seperti dalam kasus pembunuhan Udin wartawan Bernas, pembantaian PKI; strategi indeterminasi, yakni aktor dalam satu peristiwa disebutkan dengan jelas, seperti kasus petrus pada era 1980- an; kosakata sebagai perlawanan wacana dominan penguasa, seperti kata “pembantaian” untuk kasus korban DOM di Aceh, Islam dijadikan stempel rezim Orde Baru. Kedua, dari tema-tema yang dibicarakan dan strategi komunikasi yang digunakan tampak tegas bahwa Syu’bah Asa memakai paradigma kritik sosial dalam penulis tafsirnya: ia membaca secara kritis teks Qur’an, danpada saat yang sama ia membaca realitas sosial dan mengkritik berbagai ketimpangan yang terjadi..  tafsir  Kesadaran sejarah dalam tafsir: tafsir diarahkan pada lokus konteks ruang spesifik, historis, dan kongkrit.  Tafsir tegas berbihak kepada kritik sosial.

Item Type: Article
Subjects: 2x Islam > 2x1 Al Quran dan Ilmu Terkait
Divisions: Karya Dosen
Depositing User: dosen dosen
Date Deposited: 01 Mar 2019 08:31
Last Modified: 01 Mar 2019 08:31
URI: http://eprints.iain-surakarta.ac.id/id/eprint/3722

Actions (login required)

View Item View Item